Feeds:
Posts
Comments

“Pendirian Negeri Magelang. Oleh mojang ketoeroenan Regen jang masjhoer namanja. Kota Pegoenoengan jang bagoes, sehat dan ma’moer”

Pada permoelaan tahoen 1810 oleh orang Inggris jang waktoe itoe memegang pemerintahan disini, Magelang dipilih djadi iboe negeri kaboepaten jang senama, sedang jang diangkat djadi regen ialah Mas Angabei Danoekromo. Sesoedah beberapa kedjadian jang dioeraikan dengan landjoet dalam berbagai-bagai boekoe, maka menoeroet beslit Goebernemen pada 30 Nopember 1813 Mas Angabei Danoekromo ditetapkan dalam djabatannja oleh Pemerintah Belanda bergelar Raden Toemenggoeng Danoeningrat.

Regen Magelang jang pertama
Dalam tahoen 1825 pada masa perang Diponegoro jang sebagian besar berlakoe di Kedoe, maka Regen Magelang jang pertama tewas di medan perang. Riwayat masa jang mengandoeng serba kepahitan mentjeritakan betapa pendoedoek seloeroeh afdeling Probolinggo dan afdeling Magelang di sebelah selatan memihak Pangeran Diponegoro ketika berontak melawan pemerintah Belanda. Continue Reading »

Dua Sungai

Kota Magelang secara administrasi dibatasi oleh dua sungai besar, yaitu sungai Progo di sebelah Barat dan Sungai Elo di sebelah Timur.  Pembatasan administrasi terjadi pada tahun 1906, pada saat wilayah apitan aliran dua sungai (Progo dan Elo)  dijadikan  wilayah kota Magelang.

Jembatan Ngembik – KulonProgo,  Cacaban – Bandungan, Canguk – Tegalrejo

Kedua sungai ini sudah diceritakan pada Prasasti Continue Reading »

Prasasti Poh dan Prasasti Mantyasih sedikit banyak telah menceritakan kondisi alam daerah Magelang kuno.  Ada beberapa bagian yang diterjemahkan dalam disertasi Timbul Haryono dan Riboet Dharmosoetopo yang menceritakan nama-nama wanua (desa) pada jaman itu.  Walaupun ada beberapa juga yang sebenarnya diceritakan dalam prasasti namun wilayahnya sampai sekarang belum bisa diketemukan lokasinya.

Beberapa wilayah yang bisa ditelusuri Continue Reading »

Babad alas Kedu menjadi tonggak awal kembalinya tanah Magelang.  Terjadi pertempuran atas perebutan daerah kekuasaan  Raja Jin Sepanjang yang meliputi tanah Magelang dan Kedu dengan prajurit dari Mataram sekitar 1575.  Dari pertempuran ini terbunuh Kyai Kramat dan Nyai Bogem.  Lokasi terbunuhnya dua prajurit ini dinamai Continue Reading »

Pada tahun 1810 Inggris menguasai  Magelang dan melanjutkan pemerintahan menggantikan pemerintah lokal (sebelumnya Magelang masuk Mataram baru).  Inggris menggunakan salah satu lokasi Kebondalem sebagai awal  kota dengan membangun Masjid dan Kadipaten di sekitar alun-alun.  Masjid di sebelah Barat alun-alun dan pada waktu-waktu berikutnya di sebelah Barat masjid, terdapat Continue Reading »

Bukit Tidar

Menurut cerita yang ada bukit Tidar pada abad pertama di jaga oleh semar tanpa adanya manusia lainnya. Saat itu Jawa masih belum berpenghuni kecuali mahluk halus.   Baru pada tahun 88 M, rombongan orang Keling menghuni bukit Tidar dan sekitarnya  setelah pemasangan tumbal di lima lokasi di Jawa salah satunya di bukit Tidar.

Seiring dengan dengan waktu bukit tidar mulai dihuni manusia walaupun sampai saat ini masih sangat sulit diketemukan data-data tentang bukit Tidar pada jaman pra kerajaan Mataram.

Baru pada babad alas Kedu Mataram Baru Continue Reading »

Prasasti Poh dan Prasasti Mantyasih terletak di sebelah Timur Sungai Progo, kota Magelang.  Prasasti Poh terletak di kampung Dumpoh, tepatnya berada di tengah makam kampung Dumpoh, yang mana dalam makam ini terdapat makam Eyang Kedu.  Sementara Prasasti Mantyasih terletak di Meteseh, sebelah Barat Karesidenan Kedu.  Lokasi ditemukannya prasasti diletakkan batu sebagai replikanya.

Continue Reading »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.