Feeds:
Posts
Comments

Kwarasan sebagai Karya Ir.Thomas Karsten, Arsitek Belanda yang Peduli Terhadap Potensi Alam 

Kota Magelang bukanlah kota besar yang dibuat oleh pemerintah Belanda, Kota Magelang juga bukan daerah yang selalu menjadi pusat pemerintahan pada masa sebelum Belanda berkuasa di Magelang. Namun, sebagai bagian dari tempat kehidupan yang bisa dilacak sejak jaman kerajaan, Kota Magelang sudah menjadi tempat menarik bagi masyarakat untuk bermukim dan melakukan kegiatan. Sebut saja saat Casparis (1950) menceritakan bahwa pada periode Kerajaan Mataram Kuno, Mantyasih (Meteseh Magelang) merupakan salah satu pusat kegiatan dan tempat untuk mengontrol lokasi sekitarnya, dengan salah satu pertimbangannya terletak di tepi Sungai Progo (Lihat Skema Casparis dalam Utami, 2013:118). Begitu juga saat Kolonial Belanda ikut mempengaruhi perkembangan Kota Magelang. Magelang yang sebelumnya sebagai Kebondalem dari Kasultanan Surakarta, dikembangkan menjadi salah satu pusat kegiatan khususnya militer dan pemerintahan dalam skala karesidenan, yaitu sebagai ibu kota karesidenan Kedu (Utami, 2001).

Dampak dari dikembangkannya Magelang sebagai kota militer dan kota pemerintahan, kawasan Magelang mengalami perubahan yang cukup significant. Salah satunya adanya pergeseran fungsi kawasan perkebunan menjadi kawasan-kawasan terbangun yang sudah terjadi sejak tahun 1870-an, antara lain kawasan alun-alun sebagai pusat kota, kawasan Bayeman sebagai kawasan permukiman, kawasan Meteseh sebagai kawasan pemerintahan dan kawasan Ngupasan atau Kedjoeron sebagai kawasan permukiman yang dikembangkan oleh Ir.Thomas Karsten tahun 1936-1937 (selain Ngupasan, Karsten juga ikut mendesain kawasan Bayeman, kawasan Pasar Rejowinangun dan sekitarnya dan Menara Air di alun-alun).  Continue Reading »

Originally posted on Magelang Kota Tua - Kota Pusaka Magelang - Magelang Heritage City:

Kawarasan atau yang saat ini kita kenal dengan Kwarasan, adalah salah satu kawasan peninggalan Hindia Belanda sebagai salah satu program perbaikan kampung pada era tahun 1936-1937. Kata kawarasan berasal dari kata “waras” yang artinya sehat. Beberapa referensi yang ada menjelaskan pada periode tahun-tahun tersebut banyak terjadi wabah penyakit yang diakibatkan kurang bersihnya beberapa kawasan yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu percontohan permukiman yang sehat yang bebas dari wabah penyakit.

View original 540 more words

Kota Magelang bukanlah ruang kehidupan masyarakat yang baru saja terbentuk. Kota Magelang bukanlah bayi yang baru lahir dan sedang belajar merangkak.
Ruang-ruang yang ada saat ini, bukanlah sim salabim yang langsung terbentuk dalam sekejap. Ada proses yang sangat menarik dibelakang terbentuknya ruang-ruang yang bisa kita lihat saat ini. Ruang yang saat ini dikenal sebagai Kota Magelang sudah dihuni oleh sekelompok masyarakat sejak jaman Kerajaan Mataram Kuno atau bahkan jauh sebelumnya. Helmy dan Sutarto (2006, 2007) menjelaskan kondisi ribuan tahun yang lalu Danau Borobudur yang memperlihatkan keberadaan lembah Kota Magelang. Kondisi alam yang dibentuk oleh tujuh gunung dengan pegunungannya serta dua sungai besar selalu menginspirasi masyarakatnya untuk membentuk ruang sesuai dengan budaya mereka (Utami, 2012, 2013).

pemadangan di sebelah Timur Alun-Alun

Pintu Gerbang Kompleks Militer Rindam

Rumah di Timur Badaan

Ruang-ruang di Kota Magelang saat ini mampu menceritakan ruang-ruang pada masa lalu (Utami, 2008, 2010, 2011, 2012). Continue Reading »

Kawarasan atau yang saat ini kita kenal dengan Kwarasan, adalah salah satu kawasan peninggalan Hindia Belanda sebagai salah satu program perbaikan kampung pada era tahun 1936-1937. Kata kawarasan berasal dari kata “waras” yang artinya sehat. Beberapa referensi yang ada menjelaskan pada periode tahun-tahun tersebut banyak terjadi wabah penyakit yang diakibatkan kurang bersihnya beberapa kawasan yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu percontohan permukiman yang sehat yang bebas dari wabah penyakit.
Continue Reading »

“Pendirian Negeri Magelang. Oleh mojang ketoeroenan Regen jang masjhoer namanja. Kota Pegoenoengan jang bagoes, sehat dan ma’moer”

Pada permoelaan tahoen 1810 oleh orang Inggris jang waktoe itoe memegang pemerintahan disini, Magelang dipilih djadi iboe negeri kaboepaten jang senama, sedang jang diangkat djadi regen ialah Mas Angabei Danoekromo. Sesoedah beberapa kedjadian jang dioeraikan dengan landjoet dalam berbagai-bagai boekoe, maka menoeroet beslit Goebernemen pada 30 Nopember 1813 Mas Angabei Danoekromo ditetapkan dalam djabatannja oleh Pemerintah Belanda bergelar Raden Toemenggoeng Danoeningrat.

Regen Magelang jang pertama
Dalam tahoen 1825 pada masa perang Diponegoro jang sebagian besar berlakoe di Kedoe, maka Regen Magelang jang pertama tewas di medan perang. Riwayat masa jang mengandoeng serba kepahitan mentjeritakan betapa pendoedoek seloeroeh afdeling Probolinggo dan afdeling Magelang di sebelah selatan memihak Pangeran Diponegoro ketika berontak melawan pemerintah Belanda. Continue Reading »

Dua Sungai

Kota Magelang secara administrasi dibatasi oleh dua sungai besar, yaitu sungai Progo di sebelah Barat dan Sungai Elo di sebelah Timur.  Pembatasan administrasi terjadi pada tahun 1906, pada saat wilayah apitan aliran dua sungai (Progo dan Elo)  dijadikan  wilayah kota Magelang.

Jembatan Ngembik – KulonProgo,  Cacaban – Bandungan, Canguk – Tegalrejo

Kedua sungai ini sudah diceritakan pada Prasasti Continue Reading »

Prasasti Poh dan Prasasti Mantyasih sedikit banyak telah menceritakan kondisi alam daerah Magelang kuno.  Ada beberapa bagian yang diterjemahkan dalam disertasi Timbul Haryono dan Riboet Dharmosoetopo yang menceritakan nama-nama wanua (desa) pada jaman itu.  Walaupun ada beberapa juga yang sebenarnya diceritakan dalam prasasti namun wilayahnya sampai sekarang belum bisa diketemukan lokasinya.

Beberapa wilayah yang bisa ditelusuri Continue Reading »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.